PADA SUATU
KETIKA SESEORANG AKAN MENYADARI BAHWA RUMAH, MOBIL, PACAR, KELUARGA,
ILMU PENGETAHUANNYA, KEKAYAANNYA BAHKAN DIRINYA SENDIRI YANG SELAMA INI
DIBANGGAKANNYA ITU TERNYATA TIDAK BERARTI APA-APA BAGI KEHIDUPAN
ABADINYA. PADA SEBUAH PERISTIWA YANG MENGHANTAM KESADARANNYA, DIA
DIPAKSA UNTUK MENGAKUI BAHWA HIDUPNYA GAGAL DAN SIA-SIA. APA YANG
DIMILIKINYA, APA YANG DICINTAINYA DAN APA YANG DIHARAPKANNYA BISA
MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN DAN KESELAMATAN TERNYATA NOL BESAR. SESEORANG
MERASA TERASING, SEPI DAN TERSINGKIR MESKIPUN DI SANA BANYAK SAHABAT DAN
KELUARGA YANG MENGHIBURNYA. HATINYA KOSONG, MERANA DAN KETAKUTAN.
Kita berteduh
di bawah sebuah dunia benda-benda dan diri jasmani yang sesungguhnya
tidak kekal. Yang kekal justeru adalah apa yang selama ini kita anggap
sebagai hal yang gaib. Hal yang menakutkan dan hal yang bersifat mitos
dan klenik. Kita enggan memasuki wilayah-wilayah tersebut karena kita
merasa tidak senang dan nyaman. Padahal, senang dan nyaman yang bisa
merasakan adalah jasad, tubuh dan fisik yang nantinya akan mengalami
sakit, renta dan sirna ditelan kematian. Jasad kita akan dikubur atau
dibakar… Musnah dimakan cacing tanah atau diterbangkan angin.
Tidak ada
sesuatu yang abadi kecuali perubahan. Akhirat adalah sebuah zona
metafisik dan gaib yang senantiasa berubah sesuai dengan garis kodrat
yang diciptakan oleh manusia sendiri. Yang bisa merasakan yang abadi ini
adalah RUH kita. Ruh adalah bagian yang paling hakiki, paling esensial,
paling substansial, paling sejati pada diri kira. RUH senantiasa
bermeditasi dalam keheningan dan berada di sebuah tempat tersuci di
dalam diri manusia. Karena tidak pernah bohong, tidak mengalami
kematian, senantiasa menyuarakan kebenaran maka RUH disebut dengan GURU
SEJATI atau AKU SEJATI.
Meskipun jasad
berada di dunia sekarang ini, namun RUH senantiasa berada di dalam
genggaman-Nya dan beradanya RUH melampaui ruang dan waktu dunia. Jadi
RUH senantiasa dalam kondisi tetap hidup abadi sepanjang masa. Setelah
ditiupkannya RUH dan kemudian “menjadi” manusia maka RUH ini tidak
pernah mati lagi untuk selama-lamanya. RUH menikmati dunia dan akhirat,
mengalami berbagai macam baju kesadaran akal dan hati manusia. RUH tidak
mengenal pintar dan bodoh, berilmu maupun tidak berilmu, tidak mengerti
cinta dan benci, tidak merasakan susah dan senang. RUH kita senantiasa
ADA karena sesungguhnya RUH adalah bagian emanasi dari Dzat Tuhan Yang
Maha Abadi.
Kalau kita
menggunakan alat Elektro Encepalograph (EEG) untuk mengukur gelombang
otak manusia maka kita tetap tidak akan mendapati kesadaran ruh.
KESADARAN RUH akan terbangun saat semua aktivitas otak kita berhenti
total, yaitu saat kita mengalami KEMATIAN. MATINYA JASAD FISIK DAN OTAK
TIDAK BERARTI MATINYA RUH. Kesadaran Ruh(ani) akan terjaga dan bangun
secara otomatis saat kita tidak lagi berpikir apa-apa. Saat kita tidak
merasakan perasaan apa-apa. Kesadaran Ruh tidak akan bisa dilatih dengan
hanya melakukan aktivitas olah raga, olah pikir maupun olah rasa.
Kesadaran ruh adalah kesadaran berketuhanan yang bisa diusahakan dengan
upaya yang sungguh-sungguh bertentangan dengan apa yang kita pikirkan,
apa yang kira rasakan dan apa yang kita harapkan. Sebab ruh tidak
berpikir, ruh tidak merasakan apa-apa dan ruh tidak berharap apa-apa.
Energi ruh kita
berasal dari mana? Energi ruh kita berasal dari ENERGI TUHAN. Yang
tidak pernah akan habis sekian triliun tahun, yang tidak akan pudar
meskipun sudah menyinari sekian milyar batin manusia. Energi ruh abadi
selama-lamanya karena selalu terpancar dari Dzat-Nya yang Maha Sempurna.
Karena sifatnya yang abadi, maka ruh tidak mengenal surga dan neraka.
Surga dan neraka adalah Ciptaan Tuhan, sementara RUH adalah bagian dari
Dzat Tuhan. Tidak mungkin Tuhan menempatkan diri-Nya sendiri di dalam
tempat surga dan neraka. Sehingga benar bila nanti setelah alam semesta
ini digulung, maka Ruh kita akan kembali di dalam Diri-Nya. Surga dan
neraka “diciptakan” sendiri oleh manusia, untuk mereka yang masih
berkeinginan untuk melanjutkan kehidupannya setelah kehidupan nyata di
bumi ini berakhir. Ini wilayah gaib yang tercipta bagi mereka yang BELUM
PUAS DENGAN KEHIDUPAN DUNIA ini. Bagi mereka yang sudah puas dan
bersyukur diperkenankan Tuhan untuk hidup di dunia ini saja, maka tempat
tinggal mereka selanjutnya tidak di surga atau neraka. Mereka akan
MENJADI TUHAN sebagaimana AWALNYA DULU SEBELUM SEMUANYA ADA KECUALI
DZAT-NYA.
Maka cermatilah
apa sebenarnya keinginan kita sekarang? Apa ingin keadilan, kesamaan,
kesetaraan dengan yang lain karena merasa bahwa di dunia ini dia merasa
diperlakukan secara semena-mena, tidak setara dan sederajat dan masih
merasa bahwa kebahagiaan dan kenyamanan patut diperjuangkan. Orang yang
masih berkeinginan melanjutkan perjuangan menuntut keadilan, Tuhan akan
mengganjarnya dan membalasnya dengan SURGA atau NERAKA. Dia akan
mendapatkan hukum sebab dan akibat dari buah niat, perbuatan dan
amalnya. Keinginan adalah zona pikiran, perasaan dan hati. Sehingga
masih bersifat “JASAD FISIK” BUKAN LAHIR DARI KESADARAN RUH. Coba tanya
pada orang-orang yang sudah mati dan kesadaran ruhnya sudah hidup, apa
yang diinginkannya? Jawabannya PASTI BUKAN INGIN MASIH SURGA LAGI… RUH
PASTI TIDAK INGIN APA-APA LAGI KARENA SUDAH MENYATU DENGAN TUHAN.
Maka nanti di
Surga atau neraka adalah tempat bagi DIRI-DIRI MANUSIA YANG MASIH
MEMILIKI KEINGINAN-KEINGINAN. Keinginan akan terpuaskan sesaat, namun
kemudian akan bosan dan tidak kekal. Sehingga surga dan neraka adalah
tempat yang akan mengalami kehancuran dan tidak abadi. Satu-satunya Yang
Abadi adalah Dzat Tuhan. Yang lain tidak akan pernah abadi dan akan
mengalami penyusutan dan pemudaran sebagaimana hukum keinginan.
Lihatlah, bacalah dan hayati maknanya secara mendalam apa yang ada di
surga dan neraka menurut Kitab Suci: di surga ada wanita tercantik yang
siap ditiduri setiap saat, di surga ada istana megah dan membahagiakan:
Maka bisa disimpulkan DI SURGA MASIH ADA KEINGINAN DAN KEINGINAN ADALAH
WUJUD FISIK MANUSIA YANG SIFATNYA SEMENTARA.
Bertanyalah
kepada Para Nabi dan Rasul sepanjang masa mulai Adam AS, Musa AS,
Ibrahim AS, Isa AS hingga Muhammad SAW dulu, apa yang Anda inginkan
dalam hidup ini… Masuk Surga dan Hidup Bahagia atau ingin yang lain?
Saya berani bertaruh mereka tidak akan menjawab apa-apa. kenapa
demikian? Sebab dia tidak akan menggadaikan hidup demi jasadnya untuk
memperturutkan keinginannya. Keinginan selalu bersifat FISIK sehingga
tidak mungkin para rasul yang suci itu ingin masuk surga atau neraka.
Coba tawarkan kepada mereka satu ton emas dan kekuasaan dunia agar
mereka meninggalkan keyakinan TAUHID, mereka pasti akan menolaknya
mentah-mentah, sebagaimana pernah dikatakan MUHAMMAD SAW: “SEKIRANYA KAU
LETAKKAN MATAHARI DI TANGAN KANANKU DAN BULAN DI TANGAN KIRIKU AGAR AKU
MENINGGALKAN KEYAKINANKU, MAKA AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA. AKU MEMILIH
MATI TERBAKAR HABIS DEMI KEYAKINANKU.
Para nabi dan
rasul itu adalah MANUSIA yang berjalan TANPA KEINGINAN sebab KEINGINAN
ADALAH PENDERITAAN dan ketidakkekalan. MEREKA berjalan dengan KESADARAN
RUH-NYA. Mereka adalah manusia seperti kita juga. Bila mereka bisa,
kenapa kita tidak mencoba?
CARA RAHASIA
Bagaimana
membangunkan kesadaran ruh? Jawabnya adalah selalu mengingat Tuhan
(Dzikir). Dzikir adalah cara rahasia yang mampu menembus kesadaran jasad
dan fisik untuk masuk ke ruang KESADARAN RUH. Dzikir adalah tombak yang
mampu menembus berbagai hijab/tirai pembungkus jati diri manusia yang
palsu. Dzikir itu bukan sekedar mengawal syariat manusia itu agar betul
dan bergerak di atas Tauhid kepada Allah SWT semata-mata. Tetapi ia juga
bertujuan untuk memaastikan kita agar senantiasa mengingati dan
berikhtiar untuk melekatkan diri kita dengan sifat-sifat yang ada kepada
Allah.
Dzikir juga
penawar untuk mengobati batin, pembersih batin, mensucikan batin
sekaligus dan membuka CAHAYA KALBU serta menghancurkan darah kotor di
ujung jantung, yang dinamakan ”Istana Setan”. Apabila seluruh batin kita
sudah terselimuti dengan Dzat-Nya, maka seluruh batin kita akan cerah
dan dapat berfungsi dengan baik seperti malam hari diterangi bulan
purnama. Orang yang dzikir mata dan telinga batinnya akan terbuka dengan
terang.
Apabila hati
sudah disuluhi cahaya-NYA, maka setiap saat kita mengalami makrifat.
Proses pemancaran (wujud) cahaya dzikir itu seperti proses pemancaran
cahaya matahari yang tertimpa ke atas bulan dan memancarkan cahaya yang
nyaman ke bumi. Apabila sampai ke tahap ini, seseorang dapat mengetahui
sesuatu dengan mata batinnya yang tidak dapat ditangkap mata, dapat
ditangkap oleh telinga. Dia mendengar dan faham segala gerak-gerik alam,
hewan, serangga, daun, kayu, ombak, hembusan angin, jin, malaikat.
Dirinya dapat mengetahui sesuatu yang terjadi meskipun dia berada di
alam tidur. Dia juga tahu apa yang akan terjadi. Pendeknya segala
rahasia akan terbaca dengan jelas!
Mereka dapat
bertahan lapar, haus dan menahan sakit dan penderitaan-penderitaan fisik
yang lain. Tubuh mereka menjadi KEBAL dari duka, sakit dan pedih. Kita
sering mendengar para para manusia yang sampai di tahap perjalanan
spiritual ini mampu tidak makan bertahun-tahun dan tidak sakit
bertahun-tahun. Tuhan tidak sembarangan memaparkan bagaimana kekuatan
para Pemuda Ashabul Khafi: tujuh orang pemuda yang semuanya anak raja
tidur selama 309 tahun karena amal sucinya. Mereka adalah utusan Tuhan,
yang merupakan ahli dzikir. Logika awam, puluhan hari tanpa makan dan
minum akan mengakibatkan manusia mati. Tetapi mereka berada dalam gua
yang pintunya tertutup rapat dan tanpa memakan apa-apa.
Apakah rahasia
mereka dapat bertahan dan hidup begitu lama. Apakah yang mereka makan
utk meneruskan hayat hidup mereka? Jawabnya tidak lain dan tidak bukan
ialah dzikir. Mereka ingat kepada Allah dan menjadikan dzikir sebagai
santapan ruh. Kita hanya akan ingat Tuhan saja, tanpa yang lain,
termasuk melupakan penderitaan fisik seperti lapar, haus, sakit, takut
atau bimbang. Dengan tidak putus mengingat-Nya maka Dia juga tidak putus
mengingat kita. ”JIKA ENGKAU INGAT AKU, AKU INGAT ENGKAU.”….”DAN HANYA
PADA TUHANLAH HENDAKNYA KAMU BERHARAP..”
Kelebihan dan
keistimewaan memang milik kita semua. Milik mereka yang tidak lagi punya
KEINGINAN FISIK atau JASAD. Yang terjadi kepada para Nabi, Rasul dan
Manusia Suci lain membuktikan walaupun dibakar api, IBRAHIM AS tidak
hancur. Ia kebal karena dia selalu mengingat-NYA. NUH AS juga aman meski
tsunami besar menghanyutkan isi bumi saat itu. MUSA AS juga selamat
melintasi laut dari kejaran Fir’aun. ”Kekeramatan atau kemuliaan itu
datang tanpa disadari. Karamah seseorang itu sangat biasa… dan hanya
orang lain yang berada di luar kehidupannya yang menganggapnya
demikian.”
TALI SIMPUL
HIDUPKAN
KESADARAN RUH DALAM DIRI KITA. RUH ADALAH DIRI SEJATI, AKU SEJATI,
INGSUN SEJATI, GURU SEJATI KITA. RUH ADALAH SEMAR YANG HAKEKATNYA TETAP
HIDUP. MENGHAYATI HAKEKAT HIDUP ADALAH MENGHAYATI HIDUPNYA RUH DALAM
DIRI MANUSIA.
Ajaran Jawa yang membahas adanya RUH sebagai limpahan dan pancaran emanasi Dzat Tuhan, ada dalam aksara makna HANACARAKA:
- HA : HANANIRA SEJATINING WAHANANING HYANG.
- NA : NADYAN NORA KASAT MATA PASTI ANA.
- CA : CAREMING HYANG YEKTI TAN CETHA WINECA.
- RA : RASAKENA RAKETE LAN ANGGANIRA.
- KA : KAWRUHANA JIWANIRA KONGSI KURANG WEWEKA.
- DA : DADI SASAR YEN SIRA NORA WASPADA.
- TA : TAMATNA PRABANING HYANG SUNG SASMITA.
- SA : SASMITANE KANG KONGSI BISA KARASA.
- WA : WASPADAKNA WEWADI KANG SIRA GAWA.
- LA : LALEKNA YEN SIRA TUMEKENG LALIS.
- PA : PATI SASAR TAN WUN MANGGYA PAPA.
- DHA : DHASAR BEDA KANG WUS KALIS ING GODHA.
- JA : JANGKANE MUNG JENAK JENJEMING JIWARAGA.
- YA : YATNANA LIYEP LUYUTING PRALAYA.
- NYA : NYATA SONYA NYENYET LABETING KADONYAN.
- MA : MADYENG NGALAM PANGRANTUNAN AYWA SAMAR.
- GA : GAYUHANING TANNA LIYAN JUNG SARWA ARGA.
- BA : BALI MURBA MISESA ING NJERO NJABA.
- THA : THAKULANE WIDADARJA TEBAH NISTHA.
- NGA : NGARAH ING REH MARDI-MARDININGRAT
RUH ADALAH GURU SEJATI YANG SETIA MEMBERIKAN ‘PIWULANG SEJATINING URIP’.
PENJABARANNYA
001. …. tidak usah kebanyakan teori semu, karena sesungguhnya ingsun (saya) inilah Allah. Nyata ingsun yang sejati, bergelar Prabu Satmata, yang tidak ada lain kesejatiannya yang disebut sebangsa Allah.
002. Jika ada
seseorang manusia yang percaya kepada kesatuan lain selain Allah SWT,
maka ia akan kecewa karena ia tidak akan memperoleh apa yang ia
inginkan.
003. Allah itu
adalah keadaanku, lalu mengapa kawan-kawanku sama memakai penghalang?
Dan sesungguhnya aku ini adalah haq Allah pun tiada wujud dua; saya
sekarang adalah Allah, nanti Allah, dzahir bathin tetap Allah, kenapa
kawan-kawan masih memakai pelindung?.
004. Sebenarnya
keberadaan dzat yang nyata itu hanya berada pada mantapnya tekad kita,
tandanya tidak ada apa-apa, tetapi harus menjadi segala niat kita yang
sungguh-sungguh.
005. Tidak usah
banyak bertingkah, saya ini adalah Tuhan. Ya, betul betul saya ini
adalah Tuhan yang sebenarnya, bergelar Prabu Satmata, ketahuilah bahwa
tidak ada tuhan yang lain selain saya.
006. Saya ini
mengajarkan ilmu untuk betul-betul dapat merasakan adanya kemanunggalan.
Sedangkan bangkai itu selamanya tidak ada. Adapun yang dibicarakan
sekarang adalah ilmu yang sejati yang dapat membuka tabir kehidupan. Dan
lagi semuanya sama. Tidak ada tanda secara samar-samar, bahwa
benar-benar tidak ada perbedaan yang bagaimanapun, saya akan tetap
mempertahankan tegaknya ilmu tersebut.
007. Bahwa
sesungguhnya, lafadz Allah yaitu kesaksian akan Allah, yang tanpa rupa
dan tiada tampak akan membingungkan orang, karena diragukan
kebenarannya. Dia tidak mengetahui akan diri pribadinya yang sejati,
sehingga ia menjadi bingung. Sesungguhnya nama Allah itu untuk menyebut
wakil-Nya, diucapkan untuk menyatakan yang dipuja dan menyatakan suatu
janji. Nama itu ditumbuhkan menjadi kalimat yang diucapkan Muhammad
Rasulullah.
008. …..
padahal sifat kafir berwatak jisim, yang akan membusuk, hancur lebur
bercampur tanah. Lain jika kita sejiwa dengan Dzat Yang Maha Luhur. Ia
gagah berani, Maha Sakti dalam syarak, menjelajahi alam semesta. Dia itu
pangeran saya, yang mengusai dan memerintah saya, yang bersifat
wahdaniyah, artinya menyatukan diri denga ciptaan-Nya. Ia dapat abadi
mengembara melebihi peluru atau anak sumpit, bukan budi bukan nyawa,
bukan hidup tanpa asal dari manapun, bukan pula kehendak tanpa tujuan.
Dia itu yang bersatu padu dengan wujud saya. Tiada susah payah, kodrat
dan kehendak-Nya, tiada kenal rintangan, sehingga pikiran keras dari
keinginan luluh tiada berdaya. Maka timbullah dari jiwa raga saya
kearif-bijaksanaan saya menjumpai ia sudah ada di sana.
009. Syehk
Lemah Bang namaku, Rasulullah ya aku sendiri, Muhammad ya aku
sendiri,Asma Allah itu sesungguhya dirilu, ya akulah yang menjadi Allah
ta’ala.
010. Jika Anda
menanyakan di mana rumah Tuhan, maka jawabnya tidaklah sukar. Allah
berada pada Dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu berada dalam tubuh
manusia. Tapi hanya orang yang terpilih saja yang bisa melihatnya, yaitu
orang-orang suni.
011. Rahasia
kesadaran kesejatian kehidupan, ya ingsun ini kesejahteraan kehidupan,
engkau sejatinya Allah, ya ingsun sejatinya Allah; yakni wujud yang
berbentuk itu sejati itu sejatinya Allah, sir (rahasia) itu Rasulullah,
lisan (pengucap) itu Allah, jasad Allah badan putih tanpa darah, sir
Allah, rasa Allah, rahasia rasa kesejatian Allah, ya ingsun (aku) ini
sejatinya Allah.
012. Adanya
kehidupan itu karena pribadi, demikian pula keinginan hidup itupun
ditetapkan oleh diri sendiri, tidak mengenal roh, yang melestarikan
kehidupan, tiada turut merasakan sakit ataupun lelah. Suka dukapun
musnah karena tidak diinginkan oleh hidup. Dengan demikian hidupnya
kehidupan itu berdiri sendiri.
013. Dzat
wajibul maulana adalah yang menjadi pemimpin budi yang menuju ke semua
kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal. Satu
keinginan saja belum tentu dapat dilaksanankan dengan tepat, apalagi
dua. Nah cobala untuk memisahkan Dzat wajibul maulana dengan budi, agar
supaya manusia dapat menerima keinginan yang lain.
014. Hyang
Widi, kalau dikatakan dalam bahasa di dunia ini adalah baka bersifat
abadi, tanpa antara tiada erat dengan sakit apapun rasa tidak enak, ia
berada baik disana, maupun di sini, bukan ini bukan itu. Oleh tingkah
yang banyak dilakukan dan yang tidak wajar, menuruti raga, adalah
sesuatu yang baru.
015. Gagasan
adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia. Di manakah adanya
Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilingilah cakrawala dunia,
membubunglah ke langit yang tinggi, selamilah dalam bumi sampai lapisan
ke tujuh, tiada ditemukan wujud yang mulia.
016. Kemana
saja sunyi senyap adanya; ke Utara, Selatan, Barat, Timur dang Tengah,
yang ada di sana hanya adanya di sini. Yang ada di sini bukan wujud
saya. Yang ada dalam diriku adalah hampa dan sunyi. Isi dalam daging
tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak yang
pisah dari tubuh, laju peasat bagaikan anak panah lepas dari busur,
menjelajah Mekkah dan Madinah.
017. Saya ini
bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan
niat, buka udara, bukan angin, bukan panas, dan bukan kekosongan atau
kehapaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk
bercampur tanah dan debu. Napas saya mengelilingi dunia, tanah, api,
air, dan udara kembali ke tempat asalnya, sebab semuanya barang baru
bukan asli.
018. Maka saya
ini Dzat sejiwa yang menyatu, menyukma dalam Hyang Widi. Pangeran saya
bersifat Jalil dan Jamal, artinya Maha Mulia dan Maha Idah. Ia tidak mau
sholat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintah untuk shalat
kepada siapapun. Adapun shalat itu budi yang menyuruh, budi yang laknat
dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan dituruti, karena perintahnya
berubah-ubah. Perkataannya tidak dapat dipegang, tidak jujur, jika
dituruti tidak jadi dan selalu mengajak mencuri.
019. Syukur
kalau saya sampai tiba di dalam kehidupan yang sejati. Dalam alam
kematian ini saya kaya akan dosa. Siang malam saya berdekatan dengan api
neraka. Sakit dan sehat saya temukan di dunia ini. Lain halnya apabila
saya sudah lepas dari alam kematian. Saya akan hidup sempurna, langgeng
tiada ini dan itu.
020. Menduakan
kerja bukan watak saya. Siapa yang mau mati dalam alam kematian orang
kaya akan dosa. Balik jika saya hidup yang tak kekak ajal, akan langeng
hidup saya, tida perlu ini dan itu. Akan tetapi saya disuruh untuk
memilih hidup ayau mati saya tidak sudi. Sekalipun saya hidup, biar saya
sendiri yang menetukan.
021. …….Betapa
banyak nikmat hidup manfaatnya mati. Kenikmatan ini dijumpai dalam mati,
mati yang sempurna teramat indah, manusia sejati adalah yang sudah
meraih ilmu. Tiada dia mati, hidup selamanya, menyebutnya mati berarti
syirik, lantaran tak tersentuh lahat, hanya beralih tempatlah dia
memboyong kratonnya.
022. Aku angkat
saksi dihadapan Dzat-KU sendiri, susungguhnya tidak ada Tuhan selain
Aku. Dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-KU,
susungguhny yang disebut Allah adalah ingsun (aku) diri sendiri. Rasul
itu rasul-KU, Muhammad itu cahaya-KU, aku Dzat yang hidup yang tak kena
mati, Akulah Dzat yang kekal yang tidak pernah berubah dalam segala
keadaan. Akulah Dzat yang bijaksana tidak ada yang samar sesuatupun,
Akulah Dzat Yang Maha Menguasai, Yang Kuasa dan Yang Bijaksana, tidak
kekurangan dalam pegertian, sempurna terang benderang, tidak terasa
apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanyalah aku yang meliputi sekalian
alam dengan kodrat-KU.
023. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah keberadaan Allah. Disebut Imannya Iman.
024. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah tempat manunggalnya Allah. Disebut Imannya Tauhid.
025. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah sifatnya Allah. Disebut Imannya Syahadat.
026. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kewaspadaan Allah. Disebut Imannya Ma’rifat.
027. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah menghadap Allah. Disebut Imannya Shalat.
028. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kehidupannya Allah. Disebut Imannya Kehidupan.
029. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kepunyaan dan keagungan Allah. Disebut Imannya Takbir.
030. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, sebab engkau adalah pertemuan Allah. Disebut Imannya Saderah.
031. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kesucian Allah. Disebut Imannya Kematian.
032. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, sebab engkau adalah wadahnya Allah. Disebut Imannya Junud.
033. Jangalah
ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah bertambahnya
nikmat dan anugrah Allah. Disebut Imannya Jinabat.
034. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah asma Nama Allah. Disebut Imannya Wudlu.
035. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah ucapan Allah. Disebut Imannya Kalam.
036. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah juru bicara Allah. Disebut Imannya Akal.
037. Jangalah
ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah wujud Allah, yaitu
tempat berkumpulnya seluruh jagad makrokosmos, dunia akhirat, surga
neraka,arsy kursi, loh kalam, bumi langit, manusia, jin, iblis laknat,
malaikat, nabi, wali, orang mukmin, nyawa semua, itu berkumpul di
pucuknya jantung, yang disebut alam khayal (ala al-khayal). Disebut
Imannya Nur Cahaya.
038. Yang
disebut kodrat itu yang berkuasa, tiada yang mirip atau yang menyamai.
Kekuasannya tanpa piranti, keadaan wujudnya tidak ada baik luar maupun
dalam merupakan kesatuan, yang beraneka ragam.
039. Iradat
artinya kehendak yang tiada membicarakan, ilmu untuk mengetahui keadaan,
yang lepas jah dari panca indra bagaikan anak gumpitan lepas tertiup.
040. Inilah
maksudnya syahadat: Asyhadu berarti jatuhnya rasa, Ilaha berarti
kesetian rasa, Ilallah berarti bertemunya rasa, Muhammad berartihasil
karya yang maujud dan Pangeran berarti kesejatian hidup.
041.
Mengertilah bahwa sesungguhnya inisyahadat sakarat, jika tidak tahu maka
sakaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya hanya
sperti hewan.
042. Syahadat
allah, allah badan lebur menjadi nyawa, nyawa lebur menjadi cahaya,
cahaya lebur menjadi roh, roh lebur menjadi rasa, rasa lebur sirna
kembali kepada yang sejati, tinggalah hanya Allah semata yang abadi dan
terkematian. (Terjemahan dalam Bahasa Indonesia).
043. Syahadat
Ananing Ingsun, Asyhadu keberadaan-KU, La Ilaha bentuk wajahku, Ilallah
Tuhanku, sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku, yaitu badan dan nyawa
seluruhnya. (Terjemahan dalam Bahasa Indonesia).
044. Syahadat
Panetep Panatagana yaitu, yang menjdai bertempatnya Allah, menghadap
kepada Allah, bayanganku adalah roh Muhammad, yaitu sejatinya manusia,
yaitu wujudnya yang sempurna. (Terjemahan dalam Bahasa Indonesia).
045. Kenikmatan
mati tak dapat dihitung ….tersasar, tersesat, lagi terjerumus,
menjadikan kecemasan, menyusahkan dalam patihnya, justru bagi ilmu orang
remeh…..
046. Segala
sesuatu yang wujud, yang tersebar di dunia ini, bertentangan denga sifat
seluruh yang diciptakan, sebab isi bumi itu angkasa yang hampa.
047. Shalat
limakali sehari adalah pujian dan dzikir yang merupakan kebijaksanaan
dalam hati menurut kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi sendiri
yang akan menerima, dengan segala keberanian yang dimiliki.
048. Pada
permulaan saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya dzikir, budi
saya melepaskan hati, menaruh hati kepada seseorang, kadang-kadang
menginginkan keduniaan yang banyak, lain dengan Dzat Maha yang bersama
diriku, Nah, saya inilah Yang Maha Suci, Dzat Maulana yang nyata, yang
tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibayangkan.
049. Syahadat,
shalat, dan puasa itu adalah amalan yang tidak diinginkan, oleh karena
itu tidak perlu dilakukan. Adapun zakat dan naik haji ke Makkah,
keduanya adalah omong kosong. Itu semua adalah palsu dan penipuan
terhadap sesama manusia. Menurut para auliya’ bila manuasia melakukannya
maka dia akan dapat pahala itu adalah omong kosong, dan keduanya adalah
orang yang tidak tahu.
050. Tiada
pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di masjid mengenakan
jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala,
berbelang. Sesungguhnya hal itu tidak masuk akal. Di dunia ini semua
manusia adalah sama. Mereaka semua mengalami suka duka, menderita sakit
dan duka nestapa, tiada bedanya satu dengan yang lain. Oleh karena itu
saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal, saja, yaitu Gusti Dzat
Maulana.
051. ….Gusti
Dzat Maulana. Dialah yang luhur dan sangat sakti, yang berkuasa Maha
Besar, lagi pula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas segala
kehendak-Nya. Dialah Maha Kuasa pangkal mula segala ilmu, Maha Mulia,
Maha Indah, Maha Sempurna, Maha Kuasa, Rupa warna-nya tanpa cacat,
seperti hamba-Nya. Di dalam raga manusia ia tiada tanpak. Ia sangat
sakti menguasai segala yang terjadi, dan menjelajahi seluruh alam
semesta, Ngindraloka.
052. Hyang
Widi, wjud yang tak tampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri,
sifat-sifatnya mempunyai wujud, sperti penampakan raga yang tiada
tanpak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau
teja, halus, lurus terus menerus, menggambarkan kenyataan tiada dusta,
ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yang meniadakan permulaan,
karena asal diri pribadi.
053.
Mergertilah bahwa sesungguhnya ini syahadat sakarat, jika tidak tahu
maka sekaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya hanya
seperti hewan.
054. Syekh Siti
Jenar mengetahui benar di mana kemusnahan anta ya mulya, yaitu Dzat
yang melanggengkan budi, berdasarkan dalil ramaitu, ialah dalil yang
dapat memusnahkan beraneka ragam selubung, yaitu dapat lepas bagaikan
anak panah, tiada dapat diketahui di mana busurnya. Syari’at, tarekat,
hakekat, dan ma’rifat musnah tiada terpikirkan. Maka sampailah Syekh
Siti Jenar di istana sifat yang sejati.
055. Kematian
ada dalam hidup, hidup ada dalam mati. Kematian adalah hidup selamanya
yang tidak mati, kembali ke tujuan dan hidup langgeng selamanya, dalam
hidup ini adalah ada surga dan neraka yang tidak dapat ditolak oleh
manusia. Jika manusia masuk surga berarti ia senang, bila manusia
bingung, kalut, risih, muak, dan menderita berarti ia masuk neraka. Maka
kenikmatan mati tak dapat dihitung.
056. Hidup itu
bersifat baru dan dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ini
merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh yang mempunyai,
akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh
karena itu panca indera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup.
Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari
panca indera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat
menjadi gila, sedih, bingung, lupa, tidur dan sering kali tidak jujur.
Akal itu pula yang siang malam mengajak kita berbuat dengki, bahkan
merusak kebahagiaan orang lain. Dengki juga akan menimbulkan kejahatan,
kesombongan yang pada akhirnya membawa manusia ke dalam kenistaan dan
menodai citranya. Kalau sudah sampai sedemikian parahnya manusia
biasanya baru menyesali perbuatannya.
057. Apakah
tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, dan sumsum busa
rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya. Biarpun bersembahyang
seribu kali setiap barinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda
tutupi akhirnya kena debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya
seperti Tuhan, apakah para wali dapat membawa pulang dagingnya, saya
rasa tidak dapat. Alam semesta ini adalah baru. Tuhan tidak akan
membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat dunia ini dua
kali dan juga tidak akan membuat tatanan baru.
058. Segala
sesuatu yang terjadi di alam ini pada hakikatnya adalah perbuatan Allah.
Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari
Allah juga. Jadi sangat salah besar bila ada yang menganggap bahwa yang
baik itu dari Allah dan yang buruk adalah dari selain Allah. Oleh
karena itu Af’al allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri
manusia. Misalnya saat manusia menggoreskan pensil, di situlah terjadi
perpaduan dua kemampuan kodrati yang dipancarkan oleh Allah kepada
makhluk-Nya, yaitu kemampuan gerak pensil. Tanah yang terlempar dari
tangan seseorang itu adalah berdasar kemampuan kodrati gerak tangan
seseorang, ”maksudnya bukanlah engkau yang melempar, melainkan allah
yang melempar ketika engkau melempar.
059. Di dunia
ini kita merupakan mayat-mayat yang cepat juga akan menjadi rusak dan
bercampur tanah. Ketahuilah juga bahwa apa yang dinamakan kawulo-gusti
tidak berkaitan dengan seorang manusia biasa seperti yang lain-lain.
Kawulo dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat
memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama
kawula-gusti itu belaku, yakni selama saya mati. Nanti kalau saya sudah
hidup lagi, gusti dan kawulo lenyap, yang tinggal hanya hidupku sendiri,
ketentraman langgeng dalam Anda sendiri. Bial kamu belum menyadari
kata-kataku, maka dengan tepat dapat dikatakan bahwa kamu masih terbenam
dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hihuran macam
warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau
tidak melihat, bahwa itu hanya akibat panca indera. Itu hanya impian
yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat
lenyap. Gilalah orng yang terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik,
tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian, satu-satunya yang ku usahakan
ualah kembali kepada kehidupan.
060. Bukan
kehendak, angan-angan, bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsupun
bukan, bukan juga kekosongan atau kehampaan, penampilanku bagai mayat
baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, napsu
terhembus ke segala penjuru dunia, tanah, api, air kembali sebagai
asalnya, yaitu kembali menjadi baru.
061. Bumi,
langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia. Manusialah yang
memberi nama. Buktinya sebelum saya lahir tidak ada.
062.
Sesungguhnya pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara ajaran Islam
dengan Syiwa Budha. Hanya nama, bahasa, serta tatanan yang berbeda.
Misalnya dalam Syiwa Budha dikenal Yang Maha Baik dan Pangkal
Keselamatan, sementara dalam Islam kita mengenal Allah al Jamal dan as
Salam. Jika Syiwa dkenal sebagai pangkal penciptaan yang dikenal dengan
Brahmana maka dalam Islam kita mengenal al Khaliq. Syiwa sebagai
penguasa makhluk disebut Prajapati, maka dalam Islam kita mengenal al
Maliku al Mulki. Jika Syiwa Maha Pemurah dan Pengasih disebut Sankara,
maka dalam Islam kita mengena ar-Rahman dan ar-Rahim.
063. Kehilangan
adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak
memiliki apa-apa maka tidak akan pernah kehilangan apa-apa.
064. Jika
engkau kagum kepada seseorang yang engkau anggap Wali Allah, jangan
engkau terpancang pada kekaguman akan sosok dan perilaku yang
diperbuatnya. Sebab saat seseorang berada pada tahap kewalian, maka
keberadaab dirinya sebagi manusia telah lenyap, tenggelam ke dalam al
Waly.
065. Kewalian
bersifat terus menerus, hanya saja saat tenggelam dalam al Waly.
Berlangsungnya Cuma beberapa saat. Dan saat tenggelam ke dalam al Waly
itulah sang wali benar-benar menjadi pengejawantahan al Waly. Lanaran
itu sang wali memiliki kekeramatan yang tidak bisa diukur dengan akal
pikiran manusia, dimana karamah itu sediri pada hakekatnya
pengejawantahan al Waly. Dan lantaran itu pila yang dinamakan karamah
adalah sesuatu diluar kehendak sang wali pribadi. Semua itu semata-mata
kehendak-Nya mutlak.
066. Kekasih
Allah itu ibarat cahaya. Jika ia berada di kejahuan, kelihatan sekali
terangnya. Namun jika cahaya itu didekatkan ke mata, mata kita akan
silau dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya itu
kemata maka kita akan semakin buta tidak bisa melihatnya.
067. Engkau
bisa melihat cahaya kewalian pada diri seseorang yang jauh darimu. Nemun
engkau tidak bisa melihat cahaya kewalian yang memancar dari diri
orang-orang yang terdekat denganmu.
068. Saya hanya
akan memberi sebuah petunjuk yang bisa digunakan untuk meniti jembatam
(shiratal mustaqim) ajaib ke arahnya. Saya katakan ajaib karena jembatan
itu bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan jarak mereka yang meniti
dengan tujuan yang hendak dicapai.
069. Bagi
kalangan awan, istighfar lazimnya dipahami ebagai upaya memohon ampun
kepada Allah sehingga mereka memperoleh pengampunan. Tetapi bagi para
salik, istighfar adalah upaya pembebasan dari belenggu kekakuan kepada
Allah sehingga memperoleh ampun yang menyingkap tabir ghaib yang
menyelubungi manusia. Sesungguhnya di dalam asma al Ghaffar terangkum
makna Maha Pengampun dan juga Maha menutupi, Maha Menyembunyikan dan
Maha Menyelubungi.
070. Semua itu
terika itu benar, hanya nama dan caranya saja yang berbeda. Justru
”cara” itu menjadi salah dan sesat ketika sang salik melihat menilai
terlalu tinggi ”cara” yang diikutinya sehinga menafikan ”cara” yang
lain.
071. Semua
rintangan manusia itu berjumlah tujuh, karena kita adalah makhluk yang
hidup di atas permukaan bumi. Allah membentangkan tujuh lapis langit
yang kokoh di atas kita, sebagaimana bumipun berlapis tujuh, dan
samuderapun berlapis tujuh. Bahkan neraka berlapis tujuh. Tidakkah anda
ketahui bahwa suragapun berjumlah tujuh. Tidakkah Anda ketahui bahwa
dalam beribadaaah kepada Allah manusia diberi piranti tujuh ayat yang
diulang-ulang dari Al-Quran untuk menghubungkang dengan-Nya? Tidakkah
Anda sadari bahwa saat Anda sujud anggota badan Anda yang menjadi
tumpuan?
072. Di dunia
manusia mati. Siang malam manusia berpikir dalam alam kematian,
mengharap-harap akan permulaan hidupnya. Hal ini mengherankan sekali.
Tetapi sesungguhnya manusia di dunia ini dalam alam kematian, sebab di
dunia ini banyak neraka yang dialami. Kesengsaraan, panas, dingin,
kebingungan, kekacauan, dan kehidupan manusia dalam alam yang nyata.
073. Dalam alam
ini manusia hidup mulia, mandiri diri pribadi, tiada diperlukan
lantaran ayah dan ibu. Ia beberbuat menurut keingginan sendiri tiada
berasal dari angin, air tanah, api, dan semua yang serba jasad. Ia tidak
menginginkan atau mengaharap-harapkan kerusakan apapun. Maka apa yang
disebut Allah ialah barang baru, direka-reka menurut pikiran dan
perbuatan.
074.
Orang-orang muda dan bodoh banyak yang diikat oleh budi, cipta iblis
laknat, kafir, syetan, dan angan-angan yang muluk-muluk, yang menuntun
mereka ke yang bukan-bukan. Orang jatuh ke dalam neraka dunia karena
ditarik oleh panca indera, menuruti nafsu catur warna : hitam, merah,
kuning, serta putih, dalam jumlah yang besar sekali, yang masuk ke dalam
jiwa raganya.
075. Saya
merindukan hidup saya dulu, tatkala saya masih suci tiada terbayangkang,
tiada kenal arah, tiada kenal tempat, tiada tahu hitam, merah, putih,
hijau, biru dan kuning. Kapankah saya kembali ke kehidupan saya yang
dulu? Kelahiranku di dunia alam kematian itu demikian susah payahnya
karena saya memiliki hati sebagai orang yang mengandung sifat baru.
076.
Kelahiranku di dunia kematian itu demikian susah payahnya karena saya
memiliki hati sebagai orang yang mengandung sifat baru.
077. Keinginan
baru, kodrat, irodat, samak, basar dan ngaliman )’aliman). Betul-betul
terasa amat berat di alam kematian ini. Panca pranawa kudus, yaitu lima
penerangan suci, semua sifat saya, baik yang dalam maupun yang luar,
tidak ada yang saya semuanya iti berwujud najis, kotor dan akan menjadi
racun. Beraneka ragam terdapat tersebut dalam alam kematian ini. Di
dunia kematian, manusia terikat oleh panca indera, menggunakan keinginan
hidup, yang dua puluh sifatnya, sehingga saya hampir tergila-gila dalam
dan kematian ini.
078. Hidup itu
bersifat baru dan dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ini
merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh yang mempunyai,
akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis, oleh
karena itu panca indera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup.
Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari
panca indera, tidak dapat dipakai sebagai pandangan hidup. Akal dapat
menjadi gila, sedih, bingung, lupa, tidur dan sering kali tidak jujur.
Akal itu pula yang siang malam mengajak kita berbuat dengki, bahkan
merusak kebahagian orang lain. Dengki juga akan menimbulkal kejahatan,
kesombongan yang pada akhirnya membawa manusia ke dalam kenistaan dan
menodai citranya. Kalau sudah samapai sedemikian parahnya manuasia
biasanya baru menyesali perbuatannya.
079. Apakah
tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, sungsum, bisa merusak
dan bagaimana cara anda memperbaikinya. Biarpun bersembahyang seribu
kali tiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan anda, anda tutupi
akhirnya kena debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan,
apakah para wali dapat membawa pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat.
Alam semesta ini adalah baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua
kali dan juga tidak akan membuat tatanan baru.
080.
mayat-mayat berkeliaran kemana-mana, ke Utara dan ke Timur, mencari
makan dan sandang yang bagus dan permata serta perhiasan yang
berkilauan, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah mayat-mayat belaka.
Yang naik kereta, dokar atau bendi itu juga mayat, meskipun seringkali
ia berwatak keji terhadap sesamanya.
081. Orang yang
dihadapi oleh hamba sahayanya, duduk di kursi, kaya raya, mempunyai
tanah dan rumah yang mewah, mereka sangat senang dan bangga. Apakah ia
tidak tahu, bahwa semua benda yang terdapat di dunia akan musnah menjadi
tanah. Meskipun demikia ia bersifat sombong lagi congkak. Oh, berbelas
kasihan saya kepadanya. Ia tidak tahu akan sifat-sifat dan citra dirinya
sebagai mayat. Ia merasa dirinya yang paling cukup pandai.
082. Di alam
kematian ada surga dan neraka, dijumpai untung serta sial. Keadaan di
dunia seperti ini menurut Syekh Siti Jenar, sesuai dengan dalil
Samarakandi ”al mayit pikruhi fayajitu kabilahu” artinya Sesungguhnya
orang yang mati, menemukan jiwa raga dan memperoleh pahala surga serta
neraka.
083. ”Keadaan
itulah yang dialami manusia sekarang” demikian pendapat Syekh Siti
Jenar, yang pada akhirnya Siti Jenar siang malam berusaha untuk
mensucikan budi serta menguasai ilmu luhur dengan kemuliaan jiwa.
084. Di alam
kematian terdapat surga dan neraka, yakni bertemu dengan kebahagian dan
kecelakaan, dipenuhi oleh hamparan keduniawian. Ini cocok dengan dalil
Samarakandi analmayit pikutri, wayajidu katibahu. Sesungguhnya orang
mati itu akan mendapatkan raga bangkainya, terkena pahala surga serta
neraka.
085. Surga
neraka tidaklah kekal dan dapat lebur, ataupun letaknya hanya dalam rasa
hati masing-masing pribadi, senang puas itulah surga, adapun neraka
ialah jengkel, kecewa dalam hati. Bahwa surga neraka terdapat dia
akhirat. Itulah hal yang semata khayal tidak termakan akal.
086.
Sesungguhnya, meurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidak kekal.
Yang menganggap kekal surga neraka itu adalah kalangan awam.
Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa. Hanya Allah Dzat yang
wajib abadi, kekal, langgeng, dan azali.
087.
Sesungguhnya, tempat kebahagian dan kemulian yang disebut swarga oleh
orang-orang Hindu-Budha, di dalam Islam disebut dengan nama Jannah
(taman), yang bermakna tempat sangat menyenangkan yang di dalamnya hanya
terdapat kebahagian dan kegembiraan. Hampir mirip dengan swarga yang
dikenal di dalam Syiwa-Budha, di dalam Islam dikenal ada tujuh surga
besar yang disebut ’alailliyyin,al-Firdaus, al-Adn, an-Na’im, al-Khuld,
al-Mawa, dan Darussalam. Di surga-surga itulah amalan orang-orang yang
baik ditempatkan sesuai amal ibadahnya selam hidup di dunia.
088. Sementara
itu, tidak berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha yang meyakini adanya Alam
Bawah, yaitu neraka yang bertingkat-tingkat dan jumlahnya sebanyak jenis
siksaan, Islam pun mengajarkan demikian. Jika dalam ajaran Syiwa-Budha
dikenal ada tujuh neraka besar yaitu, Sutala, Wtala, Talata, Mahatala,
Satala, Atala, dan Patala. Maka dalam Islam juga dikenal tingkatan
neraka yaitu, Jahannam, Huthama, Hawiyah, Saqar, Jahim, dal Wail.
089. Sebetulnya
yang disebut awal dan akhir itu berda dalam cipta kita pribadi,
seumpama jasad di dalam kehidupan ini sebelum dilengkapi dengan perabot
lengkap, seperti umur 60 tahun, disitu masih disebut sebagai awal, maka
disebut masyriq (timur) yang maknanya mengangkat atau awal penetapan
manusia, serta genapnya hidup.
090. Yang saya
sebut Maghrib (Barat) itu penghabisan, maksudnya saat penghabisan
mendekati akhir, maksudnya setelah melali segala hidup di dunia. Maka,
sejatinya awal itu memulai, akhir mengakhiri. Jika memang bukan adanya
zaman alam dunia atau zaman akhirat, itu semua masih dalam keadaan hidup
semua.
091. Untuk
keadaan kematian saya sebut akhirat, hanyalah bentuk dari bergantinya
keadaan saja. Adapun sesungguhnya mati itu juga kiamat. Kiamat itu
perkumpulan, mati itu roh, jadi semua roh itu kalau sudah menjadi satu
hanya tinggal kesempurnaannya saja.
092. Moksanya
roh saya sebut mati, karena dari roh itu terwujud keberadaan Dzat semua,
letaknya kesempurnaan roh itu adalah musnahnya Dzat. Akan tetapi bagi
penerapan ma’rifat hanya yang waspada dan tepat yang bisa menerapkan
aturannya. Disamping semua itu, sesungguhnya semuanya juga hanya akan
kembali kepada asalnya masing-masing.
093.
Ketahuilah, bahwa surga dan neraka itu dua wujud, terjadinya dari
keadaan, wujud makhluk itu dari kejadian. Surga dan neraka sekarang
sudah tampak, terbentuk oleh kejadian yang nyata.
094. Saya
berikan kiasan sebagai tanda bukti adanya surga, sekarang ini sama
sekali berdasarkan wujud dan kejadian di dunia. Surga yang luhur itu
terletak dalam perasaan hati yang senang. Tidak kurang orang duduk dalam
kereta yang bagus merasa sedih bahkan menangis tersedu-sedu, sedang
seorang pedagang keliling berjalan kaki sambil memikul barang
dangangannya menyanyi sepanjang jalan. Ia menyanyikan berbagai macam
lagu dengan suara yang terdengar mengalun merdu, sekalipun ia memikul,
menggendong, menjinjing atau menyunggi barang dagangannya pergi ke
Semarang. Ia itu menemukan surganya, karena merasa senang dan bahagia.
Ia tidur di rumah penginapan umum, berbantal kayu sebagai kalang kepala,
dikerumuni serangga penghisap darah, tetapi ia dapat tidur nyenyak.
095. Orang
disurga segala macam barang serba ada, kalau ingin bepergian serba enak,
karena kereta bendi tersedia untuk mondar-mandir kemana saja. Tetapi
apabila nerakanya datang, menangislah ia bersama istri atau suaminya dan
anak-anaknya.
096. Manusia
yang sejati itu ialah yang mempunyai hak dan kekuasaan Tuhan yang Maha
Kuasa, serta mandiri diri pribadi. Sebagai hamba ia menjadi sukma,
sedang Hyang Sukma menjadi nyawa. Hilangnya nyawa bersatu padu dengan
hampa dan kehampaan ini meliputi alam semesta.
097. Adanya
Allah karena dzikir, sebab dengan berdzikir orang menjadi tidak tahu
akan adanya Dzat dan sifat-sifatnya. Nama untuk menyebut Hyang Manon,
yaitu Yang Maha Tahu, menyatukan diri hingga lenyap dan terasa dalam
pribadi. Ya dia ya saya. Maka dalam hati timbul gagagasan, bahwa ia yang
berdzikir menjadi Dzat yang mulia. Dalam alam kelanggengan yang masih
di dunia ini, dimanapun sama saja, hanya manusia yang ada. Allah yang
dirasakan adanya waktu orang berdzikir, tidak ada, jadi gagasan yang
palsu, sebab pada hakikatnya adanya Allah yang demikian itu hanya karena
nama saja.
098. Manusia
yang melebihi sesamanya, memiliki dua puluh sifat, sehingga dalam hal
ini antara agama Hindu-Budha Jawa dan Islam sudah campur. Di samping itu
roh dan nama sudah bersatu. Jadi tiada kesukaran lagi mengerti akan hal
ini dan semua sangat mudah dipahami.
099. Manusia
hidup dalam alam dunia ini hanya mengadapai dua masalah yang saling
berpasangan, yaitu baik buruk berpasangan dengan kamu, hidup berjodoh
dengan mati, Tuhan berhadapan dengan hambanya.
100. Orang
hidup tiada mersakan ajal, orang berbuat baik tiada merasakan berbuat
buruk dan jiwa luhur tiada bertempat tinggal. Demikianlah pengetahuan
yang bijaksana, yang meliputi cakrawala kehidupan, yang tiada berusaha
mencari kemuliaan kematian, hidup terserah kehendak masing-masing.
101. Keadaan
hidup itu berupa bumi, angkasa, samudra dan gunung seisinya, semua yang
tumbuh di dunia, udara dan angin yang tersebar di mana-mana, matahari
dan bulan menyusup di langit dan keberadaan manusia sebagai yang
terutama.
102. Allah bukan johor manik, yaitu ratna mutu manikam, bukan jenazah dan rahasia yang gaib. Syahadat itu kepalsuan.
103. akhirat di dunia ini tempatnya. Hidup dan matipun hanya didunia ini.
104. Bayi itu
berasal dari desakan. Setelah menjadi tua menuruti kawan. Karena
terbiasa waktu kanak-kanak berkumpul dengan anak, setelah tua berkumpul
dengan orang tua. Berbincang-bincanglah mereka tentang nama sunyi hampa,
saling bohong membohongi, meskipun sifat-sifat dan wujud mereka tidak
diketahui.
105. Takdir itu tiada kenal mundur, sebab semuanya itu ada dalam kekuasaan Yang Murba Wasesa yang menguasai segala kejadian.
106. Orang mati
tidak akan merasakan sakit, yang merasakan sakit itu hidup yang masih
mandiri dalam raga. Apabila jiwa saya telah melakukan tugasnya, maka dia
akan kembali ke alam aning anung, alam yang tentram bahagia, aman damai
dan abadi. Oleh karena itu saya tidak takut akan bahaya apapun.
107. Menurut pendapat saya. Yang disebut ilmu itu ialah segala sesuatu yang tidak kelihatan oleh mata.
108. Mana ada
Hyang Maha Suci? Baik di dunia maupun di akhirat sunyi. Yang ada saya
pribadi. Sesungguhnya besok saya hidup seorang diri tanpa kawan yang
menemani. Disitulah Dzatullah mesra bersatu menjadi saya.
109. Karena saya di dunia ini mati, luar dlam saya sekarang ini, yang di dalam hidupku besok, yang di luar kematianku sekarang.
110. Orang yang
ingin pulang ke alam kehidupan tidak sukar, lebih-lebih bagi murid Siti
Jenar, sebab ia sudah paham dengan mengusai sebelumnya. Di sini dia
tahu rasanya di sana, di sana dia tahu rasanya di sini.
111. Tiada
bimbang akan manunggalnya sukma, sukma dalam kehingan, tersimpan dati
sanubari, terbukalah tirai, tak lain antara sadar dan tidur, ibarat
kaluar dari mimpi, menyusupi rasa jati.
112. Manusia tidak boleh memiliki daya atau keinginan yang buruk dan jelek.
113. Manusia tidak boleh berbohong.
114. Manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok, buruk, saru, tidak enak didengar, dan menyakiti orang lain.
115. Manusia tidak boleh memakan daging (hewan darat, udara ataupun air).
116. Manusia tidak boleh memakan nasi kecuali yang terbuat dari bahan jagung.
117. Manusia tidak boleh mengkhianati terhadap sesama manusia.
118. manusia tidak boleh meminum air yang tidak mengalir.
119. Manusia tidak boleh membuat dengki dan iri hari.
120. Manusia tidak boleh membuat fitnah.
121. Manusia tidak boleh membunuh seluruh isi jagad.
122. manusia tidak boleh memakan ikan atau daging dari hewan yang rusuh, tidak patut, tidak bersisik, atau tidak berbulu.
123. Bila jiwa
badan lenyap, orang menemukan kehidupan dalam sukma yang sungguh nyata
dan tanpa bandingan. Ia dapat diumpamakan dengan isinya buah kamumu.
Pramana menampilkannya manunggal dengan asalnya dan dilahirkan olehnya.
124. tetapi
yang kau lihat, yang nampaknya sebagai sebuah boneka penuh mutiara
bercahaya indah, yang memancarkan sinar-sinar bernyala-nyala, itu
dinamakan pramana. Pramana itu kehidupan badan. Ia manunggal dengan
badan, tetapi tidak ambail bagian dalam suka dan dukanya. Ia berada di
dalam badan.
125. Tanpa
turut tidur dan makan tanpa menderita kesakitan atau kelaparan. Bila ia
terpisah dari badan, maka badan ikut tertinggal tanpa daya, lemah.
Pramana itulah yang mampu mengemban rasa, karena ia dihidupi oleh sukma.
Kepadanya diberi anugrah mengemban kehidupan yang dipandang sebagai
rahasia rasa nya Dzat.
126.
Penggosokan terjadi karena digerakkan oleh agin. Dari kayu yang menjadi
panas muncullah asap, kemudian api. Api maupun asap keluar dari kayu.
Perhatikanlah saat permulaan segala sesuatu, segala yang dapat diraba
dengan panca indera, keluar dari yang tidak kelihatan tersembunya…..
127. Ada orang
yang menyepi dipantai. Mereka melakukan konsentrasi di tepi laut. Buka
dua hal yang mereka pikirkan. Hanya Pencipta semesta alam yang menjdai
pusat perhatiannya. Karena kecewa belum dapat berjumpa dengan-Nya, maka
mereka lupa makan dan tidur.
128. Badan
jasmani disebut cermin lahir, karena merupakan cermin jauh dari apa yang
dicari dalam mencerminkan wajah dia yan ber-paes. Cermin batin jauh
lebih dekat.
129. Siang
malam terus menerus mereka lakukan shalat. Dengan tiada hentinya
terdengarlah pujian dan dzikir mereka. Dan kadang mereka mencari tempat
lain dan melakukan konsentrasi di kesunyian hutan. Luar biasalah usaha
mereka, hanya Penciptalahyang menjadi pusat pandangannya.
130. Badan
cacat kita cela, keutamaan kerendahan hati kita puji, tetapi keadaan
kita ialah digerakkan dan didorong olek sukma. Tetapi sukma tidak
tampak, yang nampak hanya adan.
131. Cermin
batin itu bukanlah cermin yang dipakai orang-orang biasa. Cermin ini
sangat istemewa, karena mendekati kenyataan. Bila kau mengetahui badan
yang sejati itulah yang dinamakan kematian terpilih.
132. Bila engkau melihat badanmu, Aku turut dilihat … Bila kau tidak memandang dirimu begitu, kau sungguh tersesat.
133. Sukma
tidak jauh dari pribadi. Ia tinggal di tempat itu jua. Ia jauh kalau
dipandang jauh, tetapi dekat kalau dianggap dekat. Ia tidak kelihatan,
karean antara Dia dan manusia terdapat kekuadaan-Nya yang meresapi
segala-galanya.
134. Hyang
Sukma Purba menyembunyikan Diri terhadap peglihatan, sehingga ia lenyap
sama sekali dan tak dapat dilihat. Kontemplasi terhadap Dia yang benar
lenyap dan berhenti. Jalan untuk menemukan-Nya dilacak kembali dari
puncak gunung.
135. Tetapi
Hyang Sukma sendiri tidak dapat dilihat. Cepat orang turun dari gunung
dan dengan seksama orang melihat ke kiri ke kanan. Namun Dia tidak
ditemukan, hati orang itu berlalu penuh duka cita dan kerinduan.
136. Hendaklah
waspada terhadap penghayatan roroning atunggil agar tiada ragu terhadap
bersatunya sukma, pengahayatan ini terbuka di dalam penyepian, tersimpan
di dalam kalbu. Adapun proses terungkapnya tabir penutup alam gaib,
laksana terlintasnya dlam kantuk bagi orang yang sedang mengantuk.
Penghayatan gaib itu datang laksana lintasan mimpi. Sesungguhnya orang
yang telah menghayati semacam itu berarti telah menerima anugrah Tuhan.
Kembali ke alam sunyi. Tiada menghiraukan kesenangan duniawi. Yang Maha
Kuasa telah mencakup pada dirinya. Dia telah kembali ke asal mulanya…..a
137. Mati raga
orang-orang ulama yang mengundurkan diri di dalam kesunyian hutan ialah
hanya memperhatikan yang satu itu tanpa membiarkan pandangan mereka
menyinpang. Mereka tidak menghiraukan kesukaran tempat tinggal mereka
hanya Dialah yang melindungi badan hidup mereka yang diperlihatkan. Tak
ada sesuatu yang lain yang mereka pandang, hanya Sang Penciptalah yang
mereka perhatikan.
138. Yang
menciptakan mengemudi dunia adalah tanpa rupa atau suara. Kalbu manusia
yang dipandang sebagai wisma-Nya. Carilah Dia dengan sungguh-sungguh,
jangan sampai pandanganmu terbelah menjadi dua. Peliharalah baik-baik
iman kepercayaanmu dan tolaklah hawa nafsumu.
139. Bila kau
masih menyembah dan memuji Tuhan dengan cara biasa, kau baru memiliki
pengetahuan yang kurang sempurna. Jangan terseyum seolah-olah kau sudah
mengerti, bila kau belum mengetahui ilmu sejati. Itu semua hanya berupa
tutur kata. Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian
yang diungkapkan dengan kata-kata.
140. Sembah dan
puji sempurna ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai
adanya sendiri tidak lagi dipandang. Papan tulis dan tulisan sudah
lebur, kualitas tak ada lagi. Adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang
masih mau dipandang. Tiadak ada lagi sesuatu. Maklumilah.a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar